Kaltim

Melalui Erau Adat Pelas Benua, Kutai Timur Bidik Pasar Wisata Nasional

Ahmad Munjin | 12 Oktober 2026, 11:02 WIB
Melalui Erau Adat Pelas Benua, Kutai Timur Bidik Pasar Wisata Nasional
Penampilan Tari Ganjar Ganjur Kutai dalam pembukaan Erau Adat Pelas Benua di Sangatta Kutim, Kaltim, Minggu (11/10/2026). ANTARA/Prokutim

AKURAT KALTIM - Pelestarian budaya diyakini menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk berkunjung. Untuk itu, Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Kalimantan Timur, membidik pasar wisata nasional dari giat budaya Erau Adat Pelas Benua yang digelar empat hari pada 9-12 Oktober 2026.

"Terlebih pelestarian budaya ini juga dipadukan dengan pengembangan potensi ekonomi kreatif masyarakat, sehingga pengunjung tidak hanya bisa menikmati warisan budaya leluhur, tapi juga aneka produk khas lokal," ujar Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman saat pembukaan Adat Pelas Benua di Sangatta, Minggu (11/10/2026).

Kegiatan ini tidak hanya berfungsi menjaga warisan adat masyarakat Kutai, tetapi juga membuka peluang untuk memperkenalkan kekayaan budaya daerah kepada wisatawan dari berbagai wilayah.

Baca Juga: Pemkab Kutim Punya Siasat Jitu Penuhi  Energi Listrik Desa

Adat dan budaya, katanya, merupakan salah satu modal utama dalam pembangunan, maka ketika warga tidak mengenal adat dan budayanya, mungkin akan kesulitan melihat arah yang harus dilakukan untuk meningkatkan kapasitas diri.

Erau Adat Pelas Benua ini menjadi bagian dari peringatan Hari Ulang Tahun ke-27 Kabupaten Kutim dengan mengusung tema "Adat Lestari, Tuah Benua Etam Berjaya".

Rangkaian kegiatan diawali dengan ziarah ke makam Datuk Sampai bin Lohom di kawasan Jalan Guru Besar. Tokoh tersebut tercatat pernah menjabat sebagai kepala adat pada 1855-1901, sehingga menjadi bagian penting dalam perjalanan sejarah masyarakat Sangatta.

Baca Juga: Target 20 Ribu Hektare Cetak Sawah di Kutim Mendapat Apresiasi Pemprov Kaltim

Kegiatan dilanjutkan dengan doa bersama dan perlombaan olahraga tradisional di Rumah Lamin Adat, antara lain menyumpit, begasing atau gasing, belogo, dan ketapel.

Berbagai kegiatan tersebut berpotensi dikembangkan sebagai atraksi wisata yang memberikan pengalaman langsung kepada pengunjung untuk mengenal sejarah, tradisi, dan permainan rakyat masyarakat Kutai.

Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga Kutim Basuki Isnawan mengatakan, keterlibatan masyarakat, komunitas, dan generasi muda penting untuk menjaga keberlanjutan olahraga tradisional agar tidak sekadar ditampilkan saat perayaan adat.

Baca Juga: Kejuaraan Tarung Derajat Piala Wakil Bupati Kutim 2023: Merajut Prestasi Melalui Semangat Juang

Dari sisi pengembangan pariwisata, keberadaan agenda budaya seperti Erau dapat menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan destinasi lain di Kutim, termasuk wisata alam dan wisata bahari karena Kutim memiliki beragam potensi mulai dari kawasan pesisir hingga bentang alam karst Sangkulirang-Mangkalihat.

"Pengembangan wisata budaya juga berpeluang membuka ruang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk memasarkan produk kuliner, kerajinan, serta cenderamata khas daerah," katanya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

A
Reporter
Ahmad Munjin
A