Kaltim

Iran Rogoh Dana Beku Rp108 Triliun untuk Barang Kebutuhan

Ahmad Munjin | 3 Juli 2026, 14:07 WIB
Iran Rogoh Dana Beku Rp108 Triliun untuk Barang Kebutuhan
Arsip Foto - Bendera Iran terlihat di markas besar PBB di New York, AS, Rabu (8/1/2020). ANTARA/Xinhua/Li Muzi

AKURAT KALTIM - Iran menyatakan sebagian dari dana beku awal sebesar 6 miliar dolar AS (Rp108 triliun) akan digunakan untuk membeli "barang-barang yang dibutuhkan" setelah pembicaraan di Doha. Rencana itu diumumkan pada Rabu (1/7/2026).

Menurut kantor berita resmi IRNA, Kazem Gharibabadi, wakil menteri luar negeri Iran untuk urusan hukum dan internasional serta kepala negosiator, mengatakan bahwa diskusi dengan pejabat Qatar mencakup isu-isu terkait pengeluaran sebagian dana tersebut.

Baca Juga: Pulihnya Lalu Lintas Selat Hormuz Pangkas Harga Minyak Dunia

"Selama pertemuan dengan pejabat Qatar, beberapa isu terkait pengeluaran sebagian dari dana awal 6 miliar dolar AS ditinjau, dan diputuskan bahwa, berdasarkan kebutuhan yang dinyatakan negara kami, pembelian barang-barang yang dibutuhkan akan dilakukan dan disediakan untuk Iran," kata Gharibabadi.

Namun, dia tidak secara eksplisit menggambarkan pengaturan dana beku tersebut sebagai kesepakatan dengan Washington.

Baca Juga: Iran Buka Penuh Selat Hormuz untuk Kapal Dagang

Pekan lalu, Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa Iran menghadapi kekurangan pangan dan bahwa Washington akan menggunakan "sebagian uang Iran" untuk membeli gandung, kedelai, dan jagung Amerika untuk negara tersebut, menggambarkan langkah itu sebagai pembukaan "pasar baru" bagi petani Amerika.

Pernyataan Gharibabadi disampaikan setelah pembicaraan di Doha, di mana delegasi Iran mengadakan pertemuan dengan mediator Qatar dan Pakistan untuk menindaklanjuti implementasi memorandum kesepahaman Islamabad dengan AS.

Baca Juga: Iran Wanti-Wanti AS Agar Paman Sam Penuhi Kewajiban Negosiasi

Pejabat Iran itu mengatakan ketiga pihak memutuskan untuk membangun "saluran komunikasi mendesak" untuk secara resmi mendokumentasikan dan meninjau implementasi memorandum tersebut.

Gharibabadi juga menegaskan kembali bahwa "tidak ada pertemuan langsung" yang terjadi antara delegasi Iran dan AS di Doha.

Dia mengatakan delegasi Iran juga mengangkat isu "pelanggaran" AS terhadap komitmen berdasarkan klausul pertama memorandum, khususnya yang berkaitan dengan mengakhiri perang di Lebanon.

Sumber: Anadolu

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

A
Reporter
Ahmad Munjin
A