Kaltim

AS Belum Penuhi Syarat Damai, Iran Terus Tutup Selat Hormuz

Ahmad Munjin | 12 Oktober 2026, 10:23 WIB
AS Belum Penuhi Syarat Damai, Iran Terus Tutup Selat Hormuz
Sejumlah kapal niaga milik Iran dan negara lain masih berlabuh di Selat Hormuz, Bandar Abbas, Iran, pada 10 September 2026. ANTARA/Fatemeh Bahrami - Anadolu Agency

AKURAT KALTIM – Iran tidak akan membuka kembali Selat Hormuz sampai Amerika Serikat menerima rencana tujuh poin usulan Iran terkait penyelesaian damai yang disampaikan melalui Qatar September lalu. Penegasan itu datang dari Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran.

"Selat Hormuz tidak akan dibuka sampai tujuh syarat Iran dipenuhi. Pihak Amerika mencoba berkomunikasi dengan kami melalui tiga jalur, yakni Irak, Pakistan, dan Qatar," kata Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, kepada saluran televisi Iran Press TV, Minggu (11/10/2026).

Baca Juga: Pentagon Siapkan Serangan Intensif ke Iran Selama Tiga Hari

Rezaei menambahkan AS telah menanggapi syarat-syarat Iran itu dan menerima sebagian di antaranya. "Namun, tanggapan mereka terhadap syarat-syarat lainnya masih samar," kata Rezaei.

Dia juga menuding setiap kali Iran kembali duduk di meja perundingan dengan AS, Pentagon kembali melancarkan serangan ke Iran.

Baca Juga: AS dan Israel Dapat Peringatan Keras dari Iran Soal Serangan hingga Produksi Senjata

Sehingga hal itu dianggap sebagai bentuk pengkhianatan yang jelas dari AS, tambah Rezaei.

Pada 28 Februari lalu, AS dan Israel mulai menyerang sejumlah sasaran di Iran, yang kemudian dibalas oleh Iran dengan serangan balasan.

Pada Maret, AS dan Israel juga menyerang target di ladang gas South Pars dan kawasan industri Assaluyeh di Iran selatan.

Baca Juga: AS Klaim Suplai Minyak Via Hormuz Lampaui Angka Sebelum Perang

Kemudian, pada pertengahan Juni, Iran dan AS menandatangani memorandum untuk menghentikan permusuhan. Namun, kedua pihak kembali saling melancarkan serangan tidak lama setelah kesepakatan tersebut.

Hingga kini, konflik antara Iran dan AS masih belum terselesaikan. Eskalasi konflik tersebut hampir menghentikan lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz, jalur penting bagi pasokan minyak, produk minyak, dan gas alam cair dunia.

Gangguan pelayaran melalui jalur strategis tersebut turut mendorong kenaikan harga bahan bakar di berbagai negara.

Sumber: Sputnik

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

A
Reporter
Ahmad Munjin
A