Kaltim

Soal Rencana Serang Kota di AS, Iran Bantah Tuduhan Trump

Ahmad Munjin | 14 Oktober 2026, 17:32 WIB
Soal Rencana Serang Kota di AS, Iran Bantah Tuduhan Trump
Arsip - Demonstran membawa plakat anti-perang saat berunjuk rasa memperingati Hari Buruh di Los Angeles, California, Amerika Serikat (1/5/2026). ANTARA/Xinhua/Qiu Chen

AKURAT KALTIM - Iran membantah tuduhan Presiden Donald Trump mengenai kemungkinan serangan kepada kota-kota di Amerika Serikat. Menurut Teheran, itu tidaklah berdasar, tidak realistis, dan hanya untuk kebutuhan retorika kampanye pemilu.

"Tuduhan Presiden Trump mengenai kemungkinan kehancuran kota-kota di Amerika tidaklah berdasar, tidak nyata, dan tidak lebih dari sekadar untuk keperluan kampanye," kata Duta Besar Iran untuk Rusia Kazem Jalali dalam wawancara dengan kantor berita TASS yang diterbitkan pada Rabu (14/10/2026).

Baca Juga: AS Belum Penuhi Syarat Damai, Iran Terus Tutup Selat Hormuz

Menurut dia, arahan militer Iran begitu jelas, bertanggung jawab, dan berdasarkan pertahanan dan daya gentar. Iran, tegasnya, tidak pernah menjadi pemicu perang apa pun.

"Kendati demikian, kemampuan dan kekuatan rudal Iran tidak perlu diragukan dan disangkal, serta cukup menakutkan," jelas Jalali.

Baca Juga: Blokade Iran, AS Alihkan 130 Kapal

Diplomat senior Iran itu menduga Trump berupaya menghindari tanggung jawab saat kampanye dan menggunakan efek gentar tersebut sebagai dalih untuk menyelesaikan masalah politik dalam negeri, serta membalas dendam terhadap pesaingnya dari Partai Demokrat di California.

Sebelumnya, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei mengatakan di media sosial X: "bahwa untuk menakuti rakyat mereka sendiri, mereka menciptakan musuh bayangan di angkasa untuk menyelimuti ancaman nyata di daratan".

"Bahaya yang nyata bukanlah berada di luar perbatasan atau di langit di atas Los Angeles dan San Diego. Bahaya itu berada di rezim yang telah melakukan perang ilegal terhadap dunia, dengan konsekuensi tingkat global," katanya.

Trump, tambah Baqaei, bahkan telah menjelaskan kehancuran kedua kota itu sebagai "sedikit pengorbanan yang harus dibayar".

"Ini menjadi contoh teori politik menebarkan rasa takut: menakuti rakyat dengan ancaman bayangan, menggambarkan kehancuran kota-kota mereka sendiri sebagai harga yang harus dibayar, dan mengalihkan perhatian mereka dari bahaya yang sebenarnya," tegas Baqaei.

Sumber: IRNA-OANA

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

A
Reporter
Ahmad Munjin
A