Kaltim

Menkeu AS ‘Spill’ Sanksi Ekonomi Terberat dalam Sejarah Iran

Ahmad Munjin | 21 Agustus 2026, 20:14 WIB
Menkeu AS ‘Spill’ Sanksi Ekonomi Terberat dalam Sejarah Iran
Arsip - Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent dalam konferensi pers di Gedung Putih, Washington, D.C., Amerika Serikat (28/5/2026). (ANTARA/Anadolu/Nathan Posner)

AKURAT KALTIM - Amerika Serikat (AS) ancang-ancang menjatuhkan "sanksi terberat dalam sejarah" terhadap Iran. Itu sebagai bagian dari isolasi ekonomi terkoordinasi terbesar dalam sejarah dunia.

"Tekanan ekonomi ini berarti kami akan melibatkan semua sekutu kami dan ini akan menjadi isolasi ekonomi terkoordinasi terbesar dalam sejarah dunia," kata Menteri Keuangan Scott Bessent kepada media ekonomi CNBC.

Baca Juga: Bantu Angkatan Darat AS, Iran Peringatkan Negara Asia Barat

Bessent mengatakan AS akan "menawarkan" kepada negara-negara sekutunya untuk memilih apakah mereka akan bersama AS atau melawan AS.

"Jika Anda bersikeras melakukan transaksi dengan mereka (Iran), baik itu mentransfer uang, membeli minyak mereka, atau mereka melakukan transfer melalui kapal laut, maka Departemen Keuangan AS dan Pemerintah AS akan mengerahkan seluruh kekuatan dan kekuasaan untuk menindak kalian," katanya.

Baca Juga: Kapal Tanker Minyak Diam-Diam Dikawal Pasukan AS Lintasi Hormuz

Bessent melanjutkan bahwa sudah saatnya bagi sekutu AS dan seluruh dunia untuk mengambil keputusan.

"Dan kami akan menghancurkan perekonomian rezim pembunuh ini, yang akan membatasi kemampuan mereka untuk memproyeksikan kekuasaan melalui antek-anteknya. Dengan demikian, hal itu berarti mereka (Iran) tidak akan bisa membayar tentara, dan kita akan menghadapi inflasi yang signifikan, baik inflasi harga pangan maupun inflasi umum di Iran," kata Bessent.

Baca Juga: Hentikan Perundingan, AS Pilih Cekik Ekonomi Iran

Kepada wartawan di Gedung Putih, dia mengatakan langkah-langkah ekonomi akan membuat harga minyak turun lebih cepat dari harga lebih tinggi akibat "kemacetan" di Selat Hormuz.

AS dan Iran telah menyepakati gencatan senjata pada April dan menandatangani kesepakatan kerangka kerja pada 17 Juni, yang menandai dimulainya negosiasi menuju kesepakatan akhir.

Baca Juga: Iran Masih Pikir-Pikir untuk Kembali Berunding dengan AS

Namun, pembicaraan itu terhenti karena ada ketidaksepakatan mengenai jaminan keamanan dan kebebasan navigasi melalui Selat Hormuz, salah satu rute paling strategis di dunia bagi pasokan dan perdagangan energi global.

AS dan Iran juga baru-baru ini kembali saling melancarkan serangan militer. AS menyerang sasaran-sasaran di wilayah Iran, sementara Iran membalas dengan menyerang fasilitas dan peralatan militer milik AS yang berada di beberapa negara Arab, termasuk Yordania, Bahrain, dan Kuwait.

Sumber: Anadolu

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

A
Reporter
Ahmad Munjin
A