Kaltim

Dorong Hilirisasi Kelapa, Yayasan JHL Merah Putih Kasih Siap Bangun Pabrik Kelapa di NTB

Ahmad Munjin | 4 November 2026, 18:46 WIB
Dorong Hilirisasi Kelapa, Yayasan JHL Merah Putih Kasih Siap Bangun Pabrik Kelapa di NTB
Pendiri Yayasan JHL Merah Putih Kasih, Jerry Hermawan Lo. (Dok. Yayasan JHL)

AKURAT KALTIM – Yayasan JHL Merah Putih Kasih menyatakan kesiapan mendukung pembangunan pabrik pengolahan kelapa di Nusa Tenggara Barat (NTB). Melalui kelompok usaha pendirinya, Jerry Hermawan Lo, rencana investasi tersebut diarahkan untuk memperkuat hilirisasi kelapa, meningkatkan nilai tambah hasil perkebunan, sekaligus membuka peluang usaha dan lapangan kerja bagi masyarakat.

Jerry mengatakan, realisasi pembangunan pabrik membutuhkan dukungan pemerintah daerah, terutama dalam memperluas areal perkebunan dan melakukan peremajaan tanaman kelapa guna menjamin ketersediaan bahan baku industri.

”Saya sudah berjanji kepada Pak Gubernur, tolong lakukan replanting kelapa sebanyak mungkin. Nanti kelompok usaha saya akan membangun pabrik di sini. Itu janji saya,” kata Jerry dalam keterangan tertulis kepada awak media, Rabu (4/11/2026).

Baca Juga: Demi Lahirnya Petani Muda, JHL Foundation Beri Beasiswa Kelapa untuk 100 Lebih Mahasiswa UBB

Komitmen tersebut sebelumnya disampaikan Jerry saat penyerahan Beasiswa Kelapa 2026 oleh Yayasan JHL Merah Putih Kasih kepada 100 mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Mataram (Unram), Senin (2/11/2026). Kegiatan itu dihadiri Gubernur NTB Dr. Lalu Muhamad Iqbal, Rektor Unram Prof. Dr. Sukardi, MPd., serta jajaran akademisi dan mahasiswa.

Menurut Jerry, pembangunan pabrik di NTB merupakan bagian dari ekspansi industri pengolahan kelapa yang dikembangkan kelompok usahanya. Saat ini, pihaknya telah memiliki tiga pabrik kelapa dan berencana menambah dua pabrik lagi pada 2027, dengan target kapasitas pengolahan mencapai dua juta butir kelapa per hari.

Jerry menjelaskan, kelompok usahanya kini mengembangkan konsep Royal Agro Industry, yakni sistem usaha pertanian yang mengutamakan pengolahan hasil panen menjadi produk jadi atau setengah jadi sebelum dipasarkan.

”Dua tahun lalu saya masih berbicara tentang agribisnis. Sekarang konsepnya sudah berubah menjadi Royal Agro Industry. Setiap tanaman yang kami tanam tidak langsung dijual, tetapi diindustrikan terlebih dahulu agar memiliki nilai tambah,” ujarnya.

Menurut dia, pendekatan tersebut penting untuk mengubah pola usaha pertanian yang selama ini terlalu bergantung pada penjualan komoditas mentah. Dengan pengolahan industri, nilai ekonomi hasil pertanian dapat meningkat dan membuka peluang pasar yang lebih luas.

Potensi Besar Industri Kelapa

Jerry Hermawan Lo menilai, NTB memiliki potensi besar menjadi salah satu pusat pengembangan industri kelapa nasional. Apalagi, kelapa memiliki masa produktif yang panjang dan hampir seluruh bagian buahnya dapat dimanfaatkan menjadi produk bernilai ekonomi.

Ia membandingkan potensi kelapa dengan kelapa sawit. Menurut Jerry, tanaman kelapa relatif lebih sesuai untuk dikembangkan di NTB karena memiliki masa produktif yang lebih panjang dan dapat dibudidayakan melalui pola pertanian terpadu.

”Umur produktif kelapa, kalau dirawat dengan baik, bisa mencapai 50 sampai 60 tahun. Jadi, kita tidak perlu iri kepada provinsi yang memiliki perkebunan sawit luas. NTB punya potensi kelapa yang sangat besar,” katanya.

Jerry menjelaskan, sabut kelapa dapat diolah menjadi berbagai material bangunan, seperti genteng, papan, dan bahan lantai. Kelompok usahanya bahkan telah mengembangkan sejumlah produk berbahan sabut kelapa dan mengajukan perlindungan hak kekayaan intelektual atas inovasi tersebut.

Tempurung kelapa dapat dimanfaatkan menjadi arang dan karbon untuk berbagai kebutuhan industri, termasuk bahan baku yang berpotensi digunakan dalam teknologi baterai. Sementara itu, daging kelapa dapat diolah menjadi minyak goreng, santan, dan kelapa parut kering (desiccated coconut) untuk industri makanan.

Air kelapa juga memiliki pasar yang luas, baik sebagai minuman maupun bahan baku industri minuman kemasan.

”Produk turunan kelapa itu sangat banyak. Dari sabut, tempurung, daging, sampai airnya, semua bisa menjadi produk industri. Bahkan, arang tempurung kelapa sekarang banyak dicari untuk kebutuhan industri di luar negeri,” urai Jerry.

Ia menambahkan, meningkatnya permintaan produk berbahan kelapa di pasar internasional seharusnya menjadi peluang bagi Indonesia untuk memperkuat industri pengolahan di dalam negeri.

Namun, potensi tersebut tidak akan berkembang optimal apabila ketersediaan bahan baku terus menurun akibat tanaman yang sudah tua dan kurang terawat.

Jerry mengamati banyak pohon kelapa di sejumlah daerah merupakan tanaman peninggalan generasi sebelumnya. Pohonnya sudah tinggi, berusia tua, dan produktivitasnya semakin rendah. Karena itu, ia menekankan pentingnya program peremajaan kelapa secara terencana, termasuk penggunaan bibit unggul dan penerapan teknik budidaya modern.

Ia mencontohkan uji coba penanaman kelapa di lahan seluas 50 hektare di Jailolo, Maluku Utara. Dengan pengolahan lubang tanam sedalam sekitar satu meter serta penggunaan campuran tanah dan bahan organik, menurut Jerry, akarnya cepat berkembang. ”Dalam uji coba kami, kelapa bisa mulai berbuah pada umur tiga tahun,” katanya.

Libatkan Mahasiswa Mengelola Perkebunan

Selain mendorong pembangunan pabrik, Jerry mengusulkan kerja sama antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan dunia usaha untuk mengembangkan perkebunan kelapa yang sekaligus menjadi tempat praktik mahasiswa.

Kata dia, pemerintah dapat mengupayakan penyediaan lahan melalui skema kerja sama jangka panjang dengan perguruan tinggi. Lahan tersebut kemudian dikelola mahasiswa sebagai bagian dari kegiatan pendidikan dan pengembangan kewirausahaan pertanian.

Jerry mengusulkan penerapan pola tanam tumpang sari. Dengan jarak tanam kelapa sekitar delapan meter, lahan di antara tanaman dapat dimanfaatkan untuk membudidayakan komoditas berumur pendek, seperti kacang panjang, jagung, cabai, dan buncis.

Dengan demikian, mahasiswa tidak perlu menunggu tiga hingga lima tahun untuk memperoleh hasil ekonomi dari perkebunan kelapa. ”Kalau masuk Fakultas Pertanian, hari ini mulai kuliah, besok sudah bisa praktik. Tanam kelapa, lalu di sela-selanya tanam sayuran. Sambil menunggu kelapa berbuah, kita sudah bisa panen,” tutur Jerry.

Ia menilai kegiatan tersebut dapat menjadi model pembelajaran yang menggabungkan teori, praktik budidaya, pengelolaan usaha, dan pemasaran hasil pertanian.

Jerry juga mengusulkan agar hasil panen mahasiswa dihubungkan dengan pasar yang sudah tersedia, termasuk kebutuhan bahan pangan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG). ”Kepastian pasar akan membantu mahasiswa mengembangkan kegiatan pertanian menjadi usaha yang berkelanjutan,” tambahnya.

Jerry mengakui sektor pertanian selama ini belum menjadi pilihan utama sebagian generasi muda. Padahal, pertanian modern membutuhkan tenaga terdidik yang menguasai teknologi, manajemen, dan kewirausahaan.

”Kalau kita memiliki petani dengan kemampuan tinggi, sumber daya manusia yang baik, alam yang mendukung, dan infrastruktur yang tersedia, investor akan datang. Tidak perlu selalu mencari peluang bisnis ke luar negeri. Di dalam negeri juga banyak peluang,” jelasnya.

Targetkan 3.000 Penerima Beasiswa

Dalam kesempatan tersebut, Yayasan JHL Merah Putih Kasih menyerahkan Beasiswa Kelapa 2026 kepada 100 mahasiswa Fakultas Pertanian Unram.

Jerry mengatakan, program bantuan pendidikan yang dijalankan yayasannya terus berkembang. Dua tahun lalu, jumlah penerima manfaat baru sekitar 500 orang. Hingga akhir 2026, jumlahnya ditargetkan mencapai 2.000 orang dan bertambah menjadi 3.000 orang pada 2027.

”Dua tahun lalu kami baru membiayai sekitar 500 siswa. Sampai akhir tahun ini target kami 2.000 orang. Mudah-mudahan tahun depan bisa bertambah 1.000 lagi sehingga kesempatan memperoleh pendidikan semakin luas,” ujarnya.

Jerry mengingatkan para penerima beasiswa agar memanfaatkan kesempatan menempuh pendidikan tinggi dengan sungguh-sungguh. Menurut dia, keberhasilan membutuhkan kerja keras, kerja cerdas, ketekunan, dan kemampuan menyelesaikan setiap tanggung jawab.

”Tidak cukup kerja keras, harus kerja cerdas juga. Tidak cukup kerja cerdas, kerjakanlah dengan tuntas sampai meraih sarjana. Setelah itu, harus punya loyalitas terhadap diri sendiri, keluarga, bangsa, dan negara,” katanya.

Ia juga mengingatkan mahasiswa agar tidak mudah menyerah ketika menghadapi kegagalan. Berdasarkan pengalaman hidupnya, keberhasilan sering kali baru datang setelah seseorang melewati berbagai kesulitan.

"Gagal, ulang lagi. Gagal, ulang lagi. Sampai suatu hari, dari sekian banyak usaha yang kita kerjakan, ada satu yang berhasil. Itulah yang menjadi awal perubahan kehidupan," ujar Jerry.

Gubernur Dorong Regenerasi Petani

Rektor Unram Sukardi mengapresiasi dukungan Yayasan JHL Merah Putih Kasih. Menurut dia, bantuan pendidikan sangat dibutuhkan karena masih banyak mahasiswa menghadapi keterbatasan ekonomi.

Sukardi mengungkapkan, lebih dari 40 persen mahasiswa Unram membayar uang kuliah tunggal (UKT) antara Rp500.000 dan Rp1 juta. Sekitar 900 mahasiswa lainnya memperoleh fasilitas UKT nol rupiah.

”Harapan kami, jangan sampai cita-cita mahasiswa pupus hanya karena keterbatasan. Dukungan seperti ini sangat berarti untuk membantu mereka melanjutkan pendidikan dan meraih masa depan,” ujar Sukardi.

Sementara itu, Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal mengapresiasi kontribusi Yayasan JHL Merah Putih Kasih dalam mendukung pendidikan generasi muda di daerahnya. Iqbal menilai, pemberian beasiswa merupakan investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Ia mengingatkan mahasiswa agar memanfaatkan kesempatan tersebut dengan meningkatkan kedisiplinan, bekerja keras, dan mempersiapkan masa depan. ”Kalau kamu tidak bisa keras terhadap dirimu sendiri, nanti dunia yang akan keras terhadap kamu," ujar Iqbal.

Gubernur juga mendorong mahasiswa pertanian menjadi penggerak modernisasi sektor pertanian melalui penguasaan teknologi, inovasi, dan kewirausahaan. Menurut Iqbal, regenerasi petani merupakan salah satu tantangan penting dalam meningkatkan daya saing pertanian NTB.

Jerry berharap penguatan pendidikan pertanian, peremajaan perkebunan, dan pembangunan industri pengolahan kelapa dapat berjalan beriringan.

Dengan dukungan pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan dunia usaha, pengembangan industri kelapa di NTB diharapkan tidak hanya meningkatkan nilai tambah komoditas, tetapi juga membuka lapangan kerja serta memperluas sumber pendapatan petani.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

A
Reporter
Ahmad Munjin
A