Kaltim

Nilai Jual Lebih Tinggi, Zulhas Ingin Ekspor CPO Langsung Tanpa Perantara

Ahmad Munjin | 5 November 2026, 06:25 WIB
Nilai Jual Lebih Tinggi, Zulhas Ingin Ekspor CPO Langsung Tanpa Perantara
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan saat doorstep di Batam, Kepulauan Riau, Rabu (4/11/2026). ANTARA/Amandine Nadja

AKURAT KALTIM - Agar memperoleh nilai jual yang lebih tinggi, Indonesia ingin mengekspor crude palm oil (CPO) atau minyak sawit mentah secara langsung ke negara pembeli akhir tanpa melalui negara perantara. Keinginan itu datang dari Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan alias Zulhas.

Zulkifli menilai pola perdagangan sejumlah komoditas strategis Indonesia, seperti kelapa sawit, nikel, dan timah, masih belum memberikan keuntungan optimal karena sebagian ekspornya melewati negara tetangga.

"Kita ingin negara maju, berdaulat. Saya kadang kesal juga. Indonesia produksi CPO terbesar, nikel, timah terbesar, tapi ekspornya lewat negara tetangga," kata Zulkifli di Batam, Rabu (4/11/2026).

Baca Juga: UMKM Asahan Ekspor 40 Ton Terasi ke Thailand

Ia mencontohkan perdagangan CPO yang menurutnya memiliki selisih harga cukup besar antara harga jual Indonesia kepada negara tetangga dan harga di pasar tujuan berikutnya.

"Harga CPO Rp27.000, kita jual ke tetangga Rp15.000. Berarti kita rugi Rp13.000. Bertahun-tahun. Kita tidak mau lagi masa bodoh terus. Kita ingin ekspor langsung," ujarnya.

Menurut Zulkifli, persoalan tersebut bukan sekadar menyangkut perdagangan, tetapi juga kemampuan Indonesia mengendalikan rantai distribusi dan memperoleh nilai tambah dari kekayaan alam sendiri.

Baca Juga: Ekspor Reaktor Nuklir ke RI, Jepang, AS, dan Korsel Kompak Berkolaborasi

Ia turut menyinggung sejumlah persoalan lain yang dinilai memperlihatkan posisi Indonesia kerap dirugikan, mulai dari isu kebakaran hutan dan lahan (karhutla), antrean bahan bakar minyak (BBM) di Bali, hingga tekanan terhadap pasar keuangan Indonesia.

"Kalau ada apa-apa, kita Indonesia, yang rugi," katanya.

Menko Zulhas juga menyinggung sorotan terhadap pasar modal Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Ia mengaitkan berbagai tekanan tersebut dengan tantangan Indonesia dalam menjaga stabilitas ekonomi dan kedaulatan nasional.

Baca Juga: Jika Diblokir, Iran Ancam Hentikan Ekspor Minyak Negara Teluk

Menko itu mengingatkan pentingnya memahami Pancasila dan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945, khususnya Pasal 33 yang mengamanatkan pengelolaan kekayaan alam untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Selain perdagangan komoditas, Zulkifli menyoroti ketahanan pangan yang masih menghadapi tantangan ketergantungan impor sejumlah komoditas, seperti beras, gandum, gula, kedelai, dan garam.

Menurutnya, kondisi tersebut perlu dijawab dengan meningkatkan produktivitas petani, peternak, dan nelayan melalui mekanisasi, pemanfaatan teknologi, serta perbaikan manajemen produksi.

"Kalau rakyat kita tergantung bantuan terus, dana tunai, tidak mungkin Indonesia maju. Kita harus melatih, memberi kesempatan, memberi peluang agar rakyat produktif," katanya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

A
Reporter
Ahmad Munjin
A